Biografi IU(Lee Ji Eun)

IU, Muda, Cerdas dan Berbakat

Lee Ji Eun (이지은), nama lengkapnya. Lahir di Korea Selatan, 19 Mei 1993. Lee Ji Eun (IU) adalah penyanyi solo muda berbakat  asal Korea Selatan. Pada awalnya  ia banyak mengalami kegagalan saat mengikuti audisi yang diadakan berbagai Production House di Korea. Namun IU tidak kecewa, justru ia mendapatkan lebih banyak kekuatan dan belajar apa artinya untuk tidak pernah menyerah dari kegagalan audisi. Sampai pada akhirnya IU memulai debutnya pada tanggal 24 September 2008 dengan mini album pertamanya, Lost and Found, single andalannya “Missing Child”. Mini albumnya ini tidak terlalu sukses di pasaran. Kemudian di tahun berikutnya IU mengeluarkan full albumnya berjudul  Growing Up dengan lagu andalannya “Boo” yang cukup sukses di Korea. IU juga berkolaborasi dengan sejumlah musisi kenamaan Korea. Ia mendapat penghargaan dari KBS Music Bank K-Chart pada 2 Juli 2010 dalam single berjudul Nagging, berduet dengan salah satu personil 2AM (Seulong).

IU adalah gadis yang cerdas. IU sangat mementingkan pendidikan, ia jarang bolos saat sekolah. Bahkan saat syuting akan dimulai ia datang ke lokasi dengan masih memakai seragam sekolah. Tak heran saat SMA ia menjadi siswa terpintar.  Namun ketika  lulus SMA, IU memutuskan untuk menunda kuliahnya. Alasan mengapa ia menunda kuliahnya adalah karena ia ingin fokus pada satu hal yakni karir. Ia tidak ingin setengah – setengah dalam mengerjakan sesuatu, termasuk karir dan kuliahnya. Saat ini ia sedang fokus pada karirnya, setelah ia dapat mencapai apa yang diimpikannya sebagai seorang penyanyi barulah ia akan 100% fokus pada akademiknya.

IU dibesarkan di keluarga yang kesulitan dalam hal keuangan. Mungkin hal itulah yang membuatnya menjadi seorang pekerja keras. Sejak kecil ia suka mendengarkan musik dan membaca. IU sangat murah hati dan pemalu. Ia merasa bahagia saat berada di panggung dan bernyanyi karena banyak menerima cinta dari orang lain(fans). Selain mahir bermain gitar ia juga bisa menunggang kuda.

Saat ini IU berada di bawah naungan LOEN Entertainment. Mimpinya adalah melakukan perjalan ke Eropa(sebelum berusia 20 tahun), khususnya Prancis dan Itali karena ia memiliki banyak fantasi di sana.

 

Advertisements

Cerpen: Mawar Putih untuk Gisela….

Sudah lebih dari dua tahun berlalu. Sejak kejadian naas itu ia tak pernah lagi melewati jalan ini. Jalan yang penuh dengan pohon yang rindang, yang menjadi saksi peristiwa yang tak kan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Memandangi jalanan ini dengan seksama membuat peristiwa itu terlintas kembali di benaknya.

***

Gisela memandang orang itu dengan iba. Bagaimana bisa orang yang sudah lemah dan tak berdaya masih saja dipukuli dengan kejam. Sungguh manusia-manusia tak berperasaan, batinnya. Apa yang bisa ia lakukan untuk menolong orang itu? Akankah ucapan seorang gadis yang belum genap lima belas tahun mereka dengarkan?

Gisela, ada sesuatu yang salah di sini. Kau tahu itu apa? Ya, ketidakadilan! Apa kau hanya bisa diam melihat orang itu terkapar dan tak berdaya? Begitu malang nasib orang itu Gisela. Takut?! Apa yang kau takutkan Gisela? Bukankah ada Tuhan bersamamu Gisela. Ayo bicaralah Gisela, kau bisa Gisela! Kau bisa! Terjadi perang batin antara nurani dan keegoisannya.

“Berhenti semuanya! Berhenti memukuli bapak ini!” seru Gisela. Seluruh tubuhnya gemetar saat ucapan itu keluar dari mulutnya

Mereka semua mendadak berhenti memukuli orang itu. Berbalik dan memandangi Gisela dengan tatapan sinis dan penuh amarah. Gisela benar-benar takut. Ia hampir menangis dan takut bernasib sama dengan orang naas itu. Ada sedikit penyesalan di hatinya. Tapi apakah ia hanya bisa diam tanpa mengatakan apa yang ada di benaknya? Yakni suatu kebenaran.

“Kalian sebenarnya manusia atau bukan hah? Lihat! Bapak ini hampir sekarat, tapi kalian masih memukulinya dengan kejam. Apa kalian tidak punya belas kasihan sama sekali?” ujar Gisela.

Sekarang nampak jelas orang yang terkapar itu di mata Gisela. Lemah, penuh luka dan bersimbah darah. Miris. Gisela benar-benar tak kuasa menatapnya.

“Anak ingusan! Kalau tidak tahu masalahnya jangan ikut campur!” umpat seorang wanita paruh baya berwajah keras. “Lihat, anak saya terserempet orang itu sampai luka begini.” Ujarnya sambil menuntun anak lelakinya ke hadapan Gisela.

Gisela menatap anak itu dengan seksama. Ada beberapa luka-luka kecil yang kelihatannya sudah diobati dan diperban. Lalu ia bandingkan dengan orang yang terkapar itu. Sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya. Bagaimana tidak? Anak kecil itu hanya luka ringan tapi orang itu dipukuli habis-habisan untuk membayar perbuatannya. Ada apa dengan hukum di negeri ini?

“Kalau kalian semua berpikir bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini berarti kalian tak ada bedanya dengan binatang! Lalu untuk apa ada polisi dan hakim di negeri ini jika kalian merasa sudah bisa mengatasinya hah? Apakah orang ini berniat untuk lari? Pasti kalian memukulinya tanpa tahu ia akan melarikan diri atau bertanggung jawab kan?” ucapnya menyimpulkan. “Sekarang, adakah yang tidak setuju dengan perkataan anak ingusan ini? Jika ada silahkan lanjutkan memukuli bapak itu.” Ungkap Gisela tegas.

Gisela benar-benar khawatir mereka akan melanjutkan perbuatannya. Beberapa saat kemudian ia lega karena tak ada satu orang pun yang kembali memukuli orang itu. Satu persatu dari mereka mulai membubarkan diri tanpa mempedulikan orang yang sekarat itu. Dengan cepat Gisela menghampirinya.

“Bapak, bapak bertahan ya. Saya akan bawa bapak ke rumah sakit.”

Wajah orang itu tak jelas karena penuh luka. Ia tak menjawab dan hanya tersenyum lirih sambil menggenggam tangan Gisela. Ia memperhatikan seragam sekolah Gisela yang bersimbah darah karena menahan tubuhnya. Matanya berkaca-kaca.

“Saya tidak apa-apa pak. Luka bapak harus cepat diobati supaya tidak bertambah parah.”  Ujar Gisela lembut. Ia tak kuasa menahan tangisnya lagi. Sesaat ia memperhatikan sebuah sepeda motor berwarna putih keabuan yang jaraknya kurang lebih 7 meter dari tempat ia berdiri sekarang. Ada semacam keranjang besar di bagian belakang sebelah kiri dan kanan motor itu. Meski motor itu tergeletak di pinggir jalan dengan terjungkal,  tapi ia dapat membaca dengan jelas tulisan yang ada pada keranjang sebelah kiri itu. “Toko Bunga Whiterose” Jalan Wisma Kencana nomor 17. Menerima pesanan, HUB: 081323345678.

“Nanti motor bapak biar supir saya yang urus. Sekarang kita ke rumah sakit dulu.”

Dengan susah payah ia memapah tubuh lemah itu ke dalam mobilnya. Lalu ia meminta supirnya bergegas menuju rumah sakit yang letaknya tak jauh dari tempat itu.

***

            Gisela benar-benar cemas. Nomor yang tertera dalam keranjang itu ia hubungi, namun tidak aktif. Ia juga sudah berkali-kali mengirim sejumlah pesan tapi tak ada balasan. Sementara orangtuanya menelepon agar ia segera pulang. Ia sangat bingung.

Bapak, apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh tak tega meninggalkan bapak sendirian di sini, tapi saya harus segera pulang pak, batinnya. Sekarang, mana yang lebih penting, keluarganya atau orang yang membutuhkan pertolongannya? Ahh, bukankah hari ini hari ulang tahun ayah? Mengapa ia sampai lupa hari sepenting ini? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada ayahnya? Itu berarti ia tak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat ayahnya senang, apalagi di hari ulang tahunnya ini. Ya, mungkin ia harus pulang saat ini juga. Bapak, maafkan saya. Ungkapnya dalam hati. Sebelum ia pergi ia menitipkan uang dua lembar lima puluhribuan pada suster yang sedang berjaga di depan ruang UGD tempat orang itu diobati.

***

            Dalam perjalanan pulang ia teringat kembali pada orang itu. Ia mencoba mengunjungi alamat toko bunga yang ada dalam tulisan di keranjang motor milik orang itu. Tapi sayang tak ada siapapun di sana. Sepertinya toko bunga itu sudah tutup. Ia pergi dengan perasaan sedih. Lalu ia bergegas mencari toko bunga lain untuk membeli rangkaian mawar putih yang cantik. Mawar putih, terlihat suci dan bersih, melambangkan ketulusan dan kebaikan. Ya, hadiah yang indah untuk ayah yang dicintainya. Semoga ayah senang dan tersenyum menerimanya.

***

            “Apakah kamu Gisela Rosvena?” seorang lelaki asing yang sebaya dengannya tiba-tiba menegurnya dari belakang.

Gisela berbalik. Ia mengerutkan dahi dan berkata “Iya, kamu siapa?”

“Apakah kamu mengingat sesuatu di tempat ini? Mungkin sesuatu yang tak kan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu. Saat kamu berusaha menolong seorang yang terkapar tak berdaya….” Ungkapnya sambil tersenyum.

Lelaki ini berkata seolah-olah ia terlibat mengenai kejadian naas itu. Siapa lelaki ini? Mungkinkah dia tahu sesuatu?

“Kamu siapa? Apa kamu tahu sesuatu mengenai bapak itu? Tolong beri tahu saya di mana dia sekarang…”

“Ayah sudah tidak ada di dunia…” jawabnya lirih.

Seluruh tubuh Gisela terasa lemas. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Orang itu, orang yang selama ini sangat ingin ia temui telah pergi untuk selamanya. Bapak, bagaimana bisa meninggalkan saya tanpa mengatakan sesuatu sedikitpun? Batinnya.

“Maaf, saat itu ponsel saya tak aktif. Baterainya habis. Saat saya tiba di rumah sakit tidak ada siapa-siapa. Hanya ada suster yang memberitahu saya bahwa ayah ada di ruang UGD. Dan dia juga menitipkan uang serta alamatmu pada saya. Setelah ayah pergi kami tidak membuka toko bunga lagi dan menjual sisa bunga yang ada di toko dengan harga miring. Tapi di saat terakhirnya beliau meminta agar kami menyisakan sebuah rangkaian mawar putih untuk tidak dijual.” Jelasnya.

Tiba-tiba ia menyerahkan rangkaian mawar putih yang dimaksudnya yang sudah layu sebagian. Beberapa kelopaknya berjatuhan ke jalan. Di dalamnya ada sepucuk surat.

“Ini titipan dari ayah, sehari sebelum beliau pergi….”

Gisela meraih rangkaian mawar putih itu dan membaca isi suratnya:

Mawar putih lambang kesucian dan ketulusan….

Teruntuk  Gisela Rosvena yang hatinya lebih tulus dan suci daripada mawar putih ini….

Tertanda, Bapak yang kau tolong….

Seketika itu juga tangis Gisela pecah.

***

 

Materi : Masa Perundagian

MASA PERUNDAGIAN

A. Pengertian

Masa perundagian terjadi ketika masa prasejarah. Perundagian adalah tempat di mana orang – orang yang ahli dalam membuat barang – barang atau alat – alat dari logam. Logam  disebut juga undagi.

Dalam perkembangan teknologi awal, masyarakat awal Indonesia mulai mengenal peralatan – peralatan atau benda – benda yang berasal dari logam, berupa logam campuran yang disebut logam perunggu. Logam perunggu ini merupakan campuran antara logam tembaga dengan logam timah. Hal ini dibuktikan dengan penemuan benda – benda yang berasal dari perunggu di beberapa wilayah di Indonesia.

 

B. Alat, Bahan dan Pembuatan

Benda – benda yang terbuat dari perunggu ada yang dibuat di wilayah Indonesia oleh masyarakat Indonesia sendiri dengan penemuan alat – alat cetak untuk membuat berbagai perkakas. Bahkan cara pembuatan benda – benda dari perunggu yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia menggunakan cara – cara yang sangat sederhana seperti alat cetak yang terbuat dari batu atau tanah liat.

Alat cetak dari tanah liat itu terlebih dulu dibentuk dengan lilin sesuai dengan barang yang akan dibuat, kemudian dibalut dengan tanah liat. Selanjutnya tanah liat dibakar hingga lilin mencair. Setelah cetakan tersebut terbentuk, maka dituangkan logam cair ke dalamnya. Saat logam membeku dan benda yang diinginkan terbentuk, maka tanah liat itu kemudian dilepaskan. Dapat didimpulkan bahwa seiring dengan mulai dikenalnya logam, pola pikir dan teknologi manusia juga berkembang.

 

C. Benda –  benda Peninggalan Bangsa Indonesia yang Terbuat dari Logam

a. Nekara Perunggu

Nekara merupakan sebuah benda kebudayaan yang terbuat dari perunggu. Bentuknya sebuah dandang yang tertelungkup. Nekara berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk memohon turunnya hujan dan sebagai genderang perang. Untuk upacara memohon turunnya hujan, nekara itu dipukul – pukul dengan sekuat tenaga oleh sekelompok masyarakat, begitu pula untuk gendreang perang, nekara juga dipukul dengan sekuat – kuatnya. Semakin kuat pukulan pada nekara itu, semakin bersemangat para prajurit untuk berperang, dan sebaliknya semakin lemah pukulan pada nekara itu, maka semangat perang semakin menurun.

Nekara dihias beraneka ragam dengan berbagai pola, pola binatang, pola tumbuhan, dan lain – lain. Nekara banyak ditemukan pada daerah Indonesia bagian timur, yaitu Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Selayar, Papua. Nekara yang ditemukan di Bali sampai sekarang masih disimpan di Pura Penataran Sasih, Desa Pejeng, Gianyar. Nekara tersebut begaris tengah 160 cm dan inggi 198 cm. Rakyat setempat menyebut nekara itu dengan nama “Bulan Pejeng”. Nekara itu sampai sekarang masih dipuja oleh masyarakat. Oleh karena, tidak setiap waktu orang dapat melihatnya, karena  nekara itu dianggap suci.

Nekara terbesar di Asia Tenggara berhasil ditemukan oleh para ahli di pulau Selayar  (Sulawesi Selatan). Nekara yang terkecil disebut moko. Moko sering dianggap keramat dan bahkan dijadikan sebagai mas kawin pada tradisi upacara perkawinan di daerah Nusa Tenggara.

 

b. Kapak Perunggu

Bentuk kapak perunggu beraneka ragam, ada yang berbentuk pahat , jantung atau tembilang. Pola hiasannya berupa topang mata dan pola geometri. Tipe kapak dari Pulau Rote merupakan jenis kapak yang sangat indah bentuknya dan di Indonesia hanya ditemukan tiga buah, dua buah disimpan di Museum Pusat Jakarta, sedangkan satu lagi terbakar saat dipamerkan di Paris pada tahun 1931.

 

c. Bejana Perunggu

Bejana perunggu bentuknya seperti gitar Spanyol, tetapi tanpa tangkai. Pola hiasan adalah hiasan anyaman dan menyerupai huruf “J”. Sampai sekarang di Indonesia berhasil ditemukan dua buah oleh para ahli yaitu di daerah Madura dan Sumatra.

 

d. Arca Perunggu

Bentuk arca (patung) beraneka ragam, seperti menggambarkan orang sedang menari, naik kuda dan memegang busur panah. Daerah – daerah tempat penemuan arca seperti di daerah Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor dn Palembang.

 

e. Perhiasan

Perhiasan yang terbuat dari perunggu, emas, dan besi banyak ditemukan di wilayah Indonesia. Biasanya perhiasan ditemukan sebagai bekal kubur. Bentuk pehiasan beraneka ragam dan digunakan sebagai gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul, dan lain – lain. Benda – benda itu banyak ditemukan di daerah Bali, Bogor dan Malang.

Benda – benda dari besi banyak ditemukan bersamaan dengan benda – benda dari perunggu. Tempat penemuan benda – benda dari besi antara lain Gunung Kidul (Yogyakarta), Bogor, Besuki dan Punung (Jawa Timur). Manik – manik yang ditemukan di wilayah Indonesia memiliki bermacam – macam bentuk dan biasa digunakan sebagai perhiasan atau bekal kubur. Bentuknya ada yang silinder, bulat, segi enam dan oval. Tempat penemuannya antara lain Sangiran, Pasemah, Cimanuk, Bogor, Besuki, Bone dan lain – lain.

Cerpen : Samantha …

“ Sam, pulang sama – sama ya …. ! “

“ Ya, tapi jalan kaki. “

Ia mengangguk setuju sambil tersenyum. Manis. Kemudian kami berjalan pulang menyusuri pinggiran kota. Gedung – gedung pencakar langit, Mall – mall besar, hotel – hotel mewah nan megah terlihat sepanjang perjalanan kami. Kami saling diam. Ketika melewati jembatan merah itu, akhirnya ia mengatakan sesuatu.

“ Nanti mau datang Sam? ”

“ Entah.” Jawabku.

“ Kenapa? “

“ Tak tahu. Kau sendiri? “

“ Aku ingin datang. Tapi mungkin tak jadi. “

“ Kenapa tak jadi? “

“ Karena kau tak mau pergi. Aku ingin pergi bersamamu Sam.”

Kuhentikan langkahku dan terdiam sesaat.  Aku memandangnya.

“ Datanglah bersamaku Sam. “

***

“ Aku tak punya gaun untuk malam ini. Mungkin aku tak kan datang. “ ujarku di telepon.

“ Apakah kau tak ingin menemaniku Sam? “ tanyanya di sebrang sana. Suaranya kedengaran memelas. Agak serak.

“ Aku tak berkata begitu. Hanya saja aku tak punya gaun untuk malam ini. Kau tahu, ini adalah perayaan sekolah aku tak bisa sembarang memakai baju. Jika aku datang memakai gaun yang lusuh aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri, dan kau yang datang bersamaku. “

Ia terdiam beberapa saat. “ Aku mengerti Sam, “ ujarnya lembut.

Lalu kututup telepon. Aku lega saat ia mengatakan mengerti keadaanku. Aku memang tak berniat datang ke perayaan ulang tahun sekolah. Hanya akan membuatku malu seperti tahun lalu. Saat aku datang ke sana mengenakan gaun milik almarhumah ibuku. Mereka, gadis – gadis cantik itu menghinaku, mencemooh gaunku dan menyiramnya dengan air minum. Sungguh kejadian yang memilukan dan tak kan pernah kulupakan seumur hidupku.

Seseorang mengetuk pintu rumah membuyarkan lamunanku tentang masa laluku yang buruk.

“ Gabriel? “ Aku tak percaya melihat orang yang berada di hadapanku. Kenapa ia datang? Bukankah ia bilang ia mengerti keadaanku? Itu berarti ia tahu aku tak kan datang malam ini. Tapi mengapa ia kemari? Apa maksudnya?

“ Aku mengerti Sam, kau tak punya gaun. “ ujarnya sambil tersenyum. Tangannya menggenggam sebuah kotak berwarna putih keemasan. Ia lalu memberikan kotak itu padaku.

“ Apa ini? “

“ Bukalah. “

Aku membuka kotak itu. Sebuah gaun cantik berwarna putih dengan renda – renda di bagian atasnya tersimpan rapi dalam kotak itu. Jadi ini maksudnya?

“ Aku mengerti Sam. Kau tak bisa datang karena tak punya gaun kan? Pakailah gaun ini, datanglah bersamaku malam ini. “

Aku menatap Gabriel tak percaya. Bodohnya aku memberi alasan bahwa tak punya gaun untuk pergi. Harusnya kukatakan saja aku tak ingin datang. Aku menyesal.

Aku mengangguk walau hatiku masih ragu. Aku masuk ke kamar dan memakai gaun pemberian Gabriel. Aku bercermin merapikan riasanku. Cantik. Gaunnya sangat cantik dan indah. Namun wajahku yang buruk ini tetap tak berubah seindah apapun gaun yang kukenakan. Apakah aku harus tetap datang? Akankah semuanya terjadi seperti tahun lalu? Ahh … Tak ingin aku mengingat masa itu lagi. Kalau bukan karena Gabriel yang memaksaku pergi, aku tak kan mau. Telah kumantapkan hatiku untuk datang malam ini.

Aku berdiri di ujung tangga rumahku. Gabriel tersenyum memandangku dari luar. Aku berjalan ke arahnya.

“ Kau manis Sam, kita serasi malam ini. “ komentarnya.

Aku hanya tersenyum. Ucapannya kedengaran seperti menyindirku. Aku yang buruk ini. Apanya yang serasi? Pikirku. Ia terlihat sangat tampan. Dengan setelan jas berwarna putih ditambah dengan dasi kupu – kupu dan sepatu hitamnya Gabriel terlihat elegan. Jauh berbeda dengan penampilanku. Kami bagaikan si Tampan dan si Jelek. Tapi setidaknya gaunku cantik malam ini. Mereka tak kan mencemoohnya lagi.

***

“ Halo Gabriel … “ sapa Allysa tersenyum ramah. Ia sangat cantik dengan blouse hitamnya. Allysa pemimpin kelompok gadis – gadis cantik yang mempermalukanku tahun lalu. Bagiku ia sangat menakutkan.

“ Hai.” Jawab Gabriel singkat dengan masih menggandengku erat.

“ Hai Sam, “ ujar Allysa tanpa tersenyum sedikit pun. Matanya memandang tajam tangan kami yang bergandengan bak Raja dan Ratu. Aku tahu ia tak suka melihatnya.

Aku hanya tersenyum membalasnya tak berkata sedikit pun.

“ Aku ke sana dulu. Mari, “ ujarnya. Ia lalu berbisik di telingaku “ Gaunmu cantik tapi masih sama seperti tahun lalu. Tenang saja Sam. Nikmatilah, ini malammu. Nanti ada kejutan untukmu “ ujarnya sambil tersenyum sinis lalu pergi.

Aku terdiam memikirkan perkataannya tadi. Kejutan? Apalagi ini? Akankah seperti tahun lalu lagi?

“ Mau kuambilkan minum Sam? Tunggulah di sini sebentar. “ ujar Gabriel. Kemudian pergi mengambil minuman untuk kami. Tak lama ia kembali dengan dua gelas minuman berwarna merah. Lalu menyerahkan satu gelas padaku.

Aku tak berani meneguknya sedikitpun. Inikah minuman yang Allysa dan temannya gunakan untuk menyiramku dulu?

“ Bisa kita bicara sebentar Gabriel? “ tanya Allysa tiba – tiba sudah berada di samping kami.

Gabriel mengangguk. “ Aku pergi dulu Sam, jangan ke mana – mana. Nanti kita pulang bersama. “

Aku mengangguk lagi.

“ Ayo Gabriel. “

***

Aku melangkah dengan cepat. Aku tak peduli orang – orang memandangiku dengan heran, mengiraku orang tak waras yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa, atau pembantu yang kabur setelah mencuri dan memakai gaun milik majikannya. Penampilanku sangat acak – acakkan. Rambut kusut dan terlihat sudah menangis. Bahkan masih menangis hingga sekarang. Aku semakin mempercepat langkahku. Napasku terengah – engah karena aku berjalan sambil berusaha menghentikan tangisku yang tak kunjung reda. Aku tak peduli mereka mau menganggapku apa. MEREKA TAK TAHU APA YANG BARU SAJA KUALAMI !!!! Seluruh tubuhku terasa sangat lemas. Tiba – tiba semuanya berubah gelap.

***

Aku menunggu Gabriel dengan resah. Sudah lebih dari setengah jam ia meninggalkanku sendiri di sini. Hatiku gelisah. Sebenarnya apa yang ia dan Allysa bicarakan? Mengapa begitu lama? Seribu pertanyaan berkecamuk di dadaku. Akhirnya kuputuskan mencari mereka. Aku berjalan ke arah mereka pergi meninggalkanku tadi. Aku melihat sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Aku membukanya sedikit lagi supaya bisa melihat apa yang ada di dalamnya dan …. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Gabriel dan Allysa tengah bermesraan. Allysa bersandar di bahu Gabriel dan Gabriel mengelus rambutnya lembut. Mereka bercanda, tertawa bersama bagaikan sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hari jadinya. Bahkan mungkin bisa dibilang mereka memang telah benar – benar menjadi sepasang kekasih. Inikah kejutanmu Allysa? Ya, benar – benar mengejutkanku. Sangat mengejutkanku.

***

Tahukah kau rasanya melihat orang yang begitu berarti bagi kita malah memilih orang lain? Pernahkah kau mengalaminya? Bagiku itu semua begitu menyakitkan. Hatiku terasa hancur, remuk rasanya. Aku adalah orang paling malang di dunia. Saat Gabriel mengatakan :

“ Ya, aku menyukai seseorang. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaanya padaku. Aku tak kuasa menyatakan isi hatiku yang sebenarnya. Ia begitu spesial dan sangat berarti buatku… “

Harusnya aku sadar aku tak pernah ada di hatinya. Aku bukan siapa – siapa baginya. Ia terlalu baik bagiku. Aku memang mencintainya, tulus. Tapi tak kan pernah kuungkapkan padanya. Biarlah kupendam rasa ini selamanya.

***

Aku membuka mata perlahan. Kepalaku terasa berat dan pening. Badanku terasa lelah dan sakit semua. Aku melihat ke sekelilingku. Tempat ini, tak asing bagiku. Tapi ini bukan kamarku.

“ Sudah bangun Sam? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakkah? “ tanya Gabriel yang tiba – tiba berada di dekatku. Ia tersenyum. Senyumnya mengingatkanku pada kejadian semalam.

“ Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini? “ tanyaku dingin.

“ Kau semalam pingsan Sam, aku menemukanmu tergeletak di jalan. Aku sudah bilang tunggu aku, mengapa kau pergi? “ ujarnya masih dengan tersenyum dan lembut.

“ Aku tak ingin mengganggumu, maksudku kau dan Allysa. “

Gabriel kembali tersenyum, tapi senyumnya berbeda seolah mempermainkanku.

“ Apa kau marah? “

Aku menatapnya jengkel, tapi ia malah kembali tersenyum seperti sebelumnya. Senyum yang jahil.

“ Allysa menyukaiku Sam, “ ujarnya tenang.

Mataku melotot tak percaya. Jadi benar dugaanku. Badanku terasa makin lemas.

“ Tapi aku menolaknya. “

“ Maksudmu? “

“ Allysa mengatakan ia menyukaiku dan memintaku untuk jadi kekasihnya, tapi aku menolak. Ia terus memohon tapi aku tetap tak mau. Ia menangis Sam, aku sangat bingung. Akhirnya ia meminta agar aku memeluknya untuk yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia juga meminta agar aku membuatnya tertawa selama 15 menit karena aku tak bisa membuatnya tersenyum selamanya. Aku benar – benar tak tega Sam, aku tak ingin melihatnya menangis. Kuputuskan untuk melakukan permintaanya walau aku merasa berat karena aku tak tulus. Tahukah kau? Aku hanya ingin membuat orang yang kusukai tersenyum tapi ia malah menangis karena tindakanku yang bodoh… “ ujarnya panjang lebar dengan memelas.

“ Gabriel… “

“ Aku menyukaimu Sam, maafkan aku. Aku merasa sangat bodoh telah meninggalkanmu sendiri. Aku menyesal Sam. Kau jadi menangis karena aku. Aku tahu kau sangat membenciku, tapi kumohon jangan menangis karenaku, sebab itu membuatku merasa sakit. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum Sam, selama kita bersama aku belum pernah melihatmu tersenyum. Senyum termanismu Sam. “ katanya, suaranya agak parau.

Aku menangis, menangis terharu. Tak pernah kubayangkan semua ini sebelumnya. Gabriel, yang kusayangi menyukaiku. Ia ingin melihat senyumku, ia ingin membuatku tersenyum. Oh Tuhan, kuakui takdir – Mu begitu indah… Kusyukuri nikmat yang Kau beri padaku. Terima kasih ….

***

“ Gabriel, kenapa kau menyukaiku? “

“ Karena kau adalah Samanthaku ….. “

 

**END**