Cerpen : Samantha …

“ Sam, pulang sama – sama ya …. ! “

“ Ya, tapi jalan kaki. “

Ia mengangguk setuju sambil tersenyum. Manis. Kemudian kami berjalan pulang menyusuri pinggiran kota. Gedung – gedung pencakar langit, Mall – mall besar, hotel – hotel mewah nan megah terlihat sepanjang perjalanan kami. Kami saling diam. Ketika melewati jembatan merah itu, akhirnya ia mengatakan sesuatu.

“ Nanti mau datang Sam? ”

“ Entah.” Jawabku.

“ Kenapa? “

“ Tak tahu. Kau sendiri? “

“ Aku ingin datang. Tapi mungkin tak jadi. “

“ Kenapa tak jadi? “

“ Karena kau tak mau pergi. Aku ingin pergi bersamamu Sam.”

Kuhentikan langkahku dan terdiam sesaat.  Aku memandangnya.

“ Datanglah bersamaku Sam. “

***

“ Aku tak punya gaun untuk malam ini. Mungkin aku tak kan datang. “ ujarku di telepon.

“ Apakah kau tak ingin menemaniku Sam? “ tanyanya di sebrang sana. Suaranya kedengaran memelas. Agak serak.

“ Aku tak berkata begitu. Hanya saja aku tak punya gaun untuk malam ini. Kau tahu, ini adalah perayaan sekolah aku tak bisa sembarang memakai baju. Jika aku datang memakai gaun yang lusuh aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri, dan kau yang datang bersamaku. “

Ia terdiam beberapa saat. “ Aku mengerti Sam, “ ujarnya lembut.

Lalu kututup telepon. Aku lega saat ia mengatakan mengerti keadaanku. Aku memang tak berniat datang ke perayaan ulang tahun sekolah. Hanya akan membuatku malu seperti tahun lalu. Saat aku datang ke sana mengenakan gaun milik almarhumah ibuku. Mereka, gadis – gadis cantik itu menghinaku, mencemooh gaunku dan menyiramnya dengan air minum. Sungguh kejadian yang memilukan dan tak kan pernah kulupakan seumur hidupku.

Seseorang mengetuk pintu rumah membuyarkan lamunanku tentang masa laluku yang buruk.

“ Gabriel? “ Aku tak percaya melihat orang yang berada di hadapanku. Kenapa ia datang? Bukankah ia bilang ia mengerti keadaanku? Itu berarti ia tahu aku tak kan datang malam ini. Tapi mengapa ia kemari? Apa maksudnya?

“ Aku mengerti Sam, kau tak punya gaun. “ ujarnya sambil tersenyum. Tangannya menggenggam sebuah kotak berwarna putih keemasan. Ia lalu memberikan kotak itu padaku.

“ Apa ini? “

“ Bukalah. “

Aku membuka kotak itu. Sebuah gaun cantik berwarna putih dengan renda – renda di bagian atasnya tersimpan rapi dalam kotak itu. Jadi ini maksudnya?

“ Aku mengerti Sam. Kau tak bisa datang karena tak punya gaun kan? Pakailah gaun ini, datanglah bersamaku malam ini. “

Aku menatap Gabriel tak percaya. Bodohnya aku memberi alasan bahwa tak punya gaun untuk pergi. Harusnya kukatakan saja aku tak ingin datang. Aku menyesal.

Aku mengangguk walau hatiku masih ragu. Aku masuk ke kamar dan memakai gaun pemberian Gabriel. Aku bercermin merapikan riasanku. Cantik. Gaunnya sangat cantik dan indah. Namun wajahku yang buruk ini tetap tak berubah seindah apapun gaun yang kukenakan. Apakah aku harus tetap datang? Akankah semuanya terjadi seperti tahun lalu? Ahh … Tak ingin aku mengingat masa itu lagi. Kalau bukan karena Gabriel yang memaksaku pergi, aku tak kan mau. Telah kumantapkan hatiku untuk datang malam ini.

Aku berdiri di ujung tangga rumahku. Gabriel tersenyum memandangku dari luar. Aku berjalan ke arahnya.

“ Kau manis Sam, kita serasi malam ini. “ komentarnya.

Aku hanya tersenyum. Ucapannya kedengaran seperti menyindirku. Aku yang buruk ini. Apanya yang serasi? Pikirku. Ia terlihat sangat tampan. Dengan setelan jas berwarna putih ditambah dengan dasi kupu – kupu dan sepatu hitamnya Gabriel terlihat elegan. Jauh berbeda dengan penampilanku. Kami bagaikan si Tampan dan si Jelek. Tapi setidaknya gaunku cantik malam ini. Mereka tak kan mencemoohnya lagi.

***

“ Halo Gabriel … “ sapa Allysa tersenyum ramah. Ia sangat cantik dengan blouse hitamnya. Allysa pemimpin kelompok gadis – gadis cantik yang mempermalukanku tahun lalu. Bagiku ia sangat menakutkan.

“ Hai.” Jawab Gabriel singkat dengan masih menggandengku erat.

“ Hai Sam, “ ujar Allysa tanpa tersenyum sedikit pun. Matanya memandang tajam tangan kami yang bergandengan bak Raja dan Ratu. Aku tahu ia tak suka melihatnya.

Aku hanya tersenyum membalasnya tak berkata sedikit pun.

“ Aku ke sana dulu. Mari, “ ujarnya. Ia lalu berbisik di telingaku “ Gaunmu cantik tapi masih sama seperti tahun lalu. Tenang saja Sam. Nikmatilah, ini malammu. Nanti ada kejutan untukmu “ ujarnya sambil tersenyum sinis lalu pergi.

Aku terdiam memikirkan perkataannya tadi. Kejutan? Apalagi ini? Akankah seperti tahun lalu lagi?

“ Mau kuambilkan minum Sam? Tunggulah di sini sebentar. “ ujar Gabriel. Kemudian pergi mengambil minuman untuk kami. Tak lama ia kembali dengan dua gelas minuman berwarna merah. Lalu menyerahkan satu gelas padaku.

Aku tak berani meneguknya sedikitpun. Inikah minuman yang Allysa dan temannya gunakan untuk menyiramku dulu?

“ Bisa kita bicara sebentar Gabriel? “ tanya Allysa tiba – tiba sudah berada di samping kami.

Gabriel mengangguk. “ Aku pergi dulu Sam, jangan ke mana – mana. Nanti kita pulang bersama. “

Aku mengangguk lagi.

“ Ayo Gabriel. “

***

Aku melangkah dengan cepat. Aku tak peduli orang – orang memandangiku dengan heran, mengiraku orang tak waras yang melarikan diri dari rumah sakit jiwa, atau pembantu yang kabur setelah mencuri dan memakai gaun milik majikannya. Penampilanku sangat acak – acakkan. Rambut kusut dan terlihat sudah menangis. Bahkan masih menangis hingga sekarang. Aku semakin mempercepat langkahku. Napasku terengah – engah karena aku berjalan sambil berusaha menghentikan tangisku yang tak kunjung reda. Aku tak peduli mereka mau menganggapku apa. MEREKA TAK TAHU APA YANG BARU SAJA KUALAMI !!!! Seluruh tubuhku terasa sangat lemas. Tiba – tiba semuanya berubah gelap.

***

Aku menunggu Gabriel dengan resah. Sudah lebih dari setengah jam ia meninggalkanku sendiri di sini. Hatiku gelisah. Sebenarnya apa yang ia dan Allysa bicarakan? Mengapa begitu lama? Seribu pertanyaan berkecamuk di dadaku. Akhirnya kuputuskan mencari mereka. Aku berjalan ke arah mereka pergi meninggalkanku tadi. Aku melihat sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka. Aku membukanya sedikit lagi supaya bisa melihat apa yang ada di dalamnya dan …. Aku tak percaya dengan apa yang kulihat sekarang. Gabriel dan Allysa tengah bermesraan. Allysa bersandar di bahu Gabriel dan Gabriel mengelus rambutnya lembut. Mereka bercanda, tertawa bersama bagaikan sepasang kekasih yang baru saja meresmikan hari jadinya. Bahkan mungkin bisa dibilang mereka memang telah benar – benar menjadi sepasang kekasih. Inikah kejutanmu Allysa? Ya, benar – benar mengejutkanku. Sangat mengejutkanku.

***

Tahukah kau rasanya melihat orang yang begitu berarti bagi kita malah memilih orang lain? Pernahkah kau mengalaminya? Bagiku itu semua begitu menyakitkan. Hatiku terasa hancur, remuk rasanya. Aku adalah orang paling malang di dunia. Saat Gabriel mengatakan :

“ Ya, aku menyukai seseorang. Tapi aku tak tahu bagaimana perasaanya padaku. Aku tak kuasa menyatakan isi hatiku yang sebenarnya. Ia begitu spesial dan sangat berarti buatku… “

Harusnya aku sadar aku tak pernah ada di hatinya. Aku bukan siapa – siapa baginya. Ia terlalu baik bagiku. Aku memang mencintainya, tulus. Tapi tak kan pernah kuungkapkan padanya. Biarlah kupendam rasa ini selamanya.

***

Aku membuka mata perlahan. Kepalaku terasa berat dan pening. Badanku terasa lelah dan sakit semua. Aku melihat ke sekelilingku. Tempat ini, tak asing bagiku. Tapi ini bukan kamarku.

“ Sudah bangun Sam? Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyakkah? “ tanya Gabriel yang tiba – tiba berada di dekatku. Ia tersenyum. Senyumnya mengingatkanku pada kejadian semalam.

“ Apa yang terjadi? Kenapa aku di sini? “ tanyaku dingin.

“ Kau semalam pingsan Sam, aku menemukanmu tergeletak di jalan. Aku sudah bilang tunggu aku, mengapa kau pergi? “ ujarnya masih dengan tersenyum dan lembut.

“ Aku tak ingin mengganggumu, maksudku kau dan Allysa. “

Gabriel kembali tersenyum, tapi senyumnya berbeda seolah mempermainkanku.

“ Apa kau marah? “

Aku menatapnya jengkel, tapi ia malah kembali tersenyum seperti sebelumnya. Senyum yang jahil.

“ Allysa menyukaiku Sam, “ ujarnya tenang.

Mataku melotot tak percaya. Jadi benar dugaanku. Badanku terasa makin lemas.

“ Tapi aku menolaknya. “

“ Maksudmu? “

“ Allysa mengatakan ia menyukaiku dan memintaku untuk jadi kekasihnya, tapi aku menolak. Ia terus memohon tapi aku tetap tak mau. Ia menangis Sam, aku sangat bingung. Akhirnya ia meminta agar aku memeluknya untuk yang pertama sekaligus yang terakhir. Ia juga meminta agar aku membuatnya tertawa selama 15 menit karena aku tak bisa membuatnya tersenyum selamanya. Aku benar – benar tak tega Sam, aku tak ingin melihatnya menangis. Kuputuskan untuk melakukan permintaanya walau aku merasa berat karena aku tak tulus. Tahukah kau? Aku hanya ingin membuat orang yang kusukai tersenyum tapi ia malah menangis karena tindakanku yang bodoh… “ ujarnya panjang lebar dengan memelas.

“ Gabriel… “

“ Aku menyukaimu Sam, maafkan aku. Aku merasa sangat bodoh telah meninggalkanmu sendiri. Aku menyesal Sam. Kau jadi menangis karena aku. Aku tahu kau sangat membenciku, tapi kumohon jangan menangis karenaku, sebab itu membuatku merasa sakit. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum Sam, selama kita bersama aku belum pernah melihatmu tersenyum. Senyum termanismu Sam. “ katanya, suaranya agak parau.

Aku menangis, menangis terharu. Tak pernah kubayangkan semua ini sebelumnya. Gabriel, yang kusayangi menyukaiku. Ia ingin melihat senyumku, ia ingin membuatku tersenyum. Oh Tuhan, kuakui takdir – Mu begitu indah… Kusyukuri nikmat yang Kau beri padaku. Terima kasih ….

***

“ Gabriel, kenapa kau menyukaiku? “

“ Karena kau adalah Samanthaku ….. “

 

**END**

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: