Cerpen: Mawar Putih untuk Gisela….

Sudah lebih dari dua tahun berlalu. Sejak kejadian naas itu ia tak pernah lagi melewati jalan ini. Jalan yang penuh dengan pohon yang rindang, yang menjadi saksi peristiwa yang tak kan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Memandangi jalanan ini dengan seksama membuat peristiwa itu terlintas kembali di benaknya.

***

Gisela memandang orang itu dengan iba. Bagaimana bisa orang yang sudah lemah dan tak berdaya masih saja dipukuli dengan kejam. Sungguh manusia-manusia tak berperasaan, batinnya. Apa yang bisa ia lakukan untuk menolong orang itu? Akankah ucapan seorang gadis yang belum genap lima belas tahun mereka dengarkan?

Gisela, ada sesuatu yang salah di sini. Kau tahu itu apa? Ya, ketidakadilan! Apa kau hanya bisa diam melihat orang itu terkapar dan tak berdaya? Begitu malang nasib orang itu Gisela. Takut?! Apa yang kau takutkan Gisela? Bukankah ada Tuhan bersamamu Gisela. Ayo bicaralah Gisela, kau bisa Gisela! Kau bisa! Terjadi perang batin antara nurani dan keegoisannya.

“Berhenti semuanya! Berhenti memukuli bapak ini!” seru Gisela. Seluruh tubuhnya gemetar saat ucapan itu keluar dari mulutnya

Mereka semua mendadak berhenti memukuli orang itu. Berbalik dan memandangi Gisela dengan tatapan sinis dan penuh amarah. Gisela benar-benar takut. Ia hampir menangis dan takut bernasib sama dengan orang naas itu. Ada sedikit penyesalan di hatinya. Tapi apakah ia hanya bisa diam tanpa mengatakan apa yang ada di benaknya? Yakni suatu kebenaran.

“Kalian sebenarnya manusia atau bukan hah? Lihat! Bapak ini hampir sekarat, tapi kalian masih memukulinya dengan kejam. Apa kalian tidak punya belas kasihan sama sekali?” ujar Gisela.

Sekarang nampak jelas orang yang terkapar itu di mata Gisela. Lemah, penuh luka dan bersimbah darah. Miris. Gisela benar-benar tak kuasa menatapnya.

“Anak ingusan! Kalau tidak tahu masalahnya jangan ikut campur!” umpat seorang wanita paruh baya berwajah keras. “Lihat, anak saya terserempet orang itu sampai luka begini.” Ujarnya sambil menuntun anak lelakinya ke hadapan Gisela.

Gisela menatap anak itu dengan seksama. Ada beberapa luka-luka kecil yang kelihatannya sudah diobati dan diperban. Lalu ia bandingkan dengan orang yang terkapar itu. Sedetik kemudian ia memalingkan wajahnya. Bagaimana tidak? Anak kecil itu hanya luka ringan tapi orang itu dipukuli habis-habisan untuk membayar perbuatannya. Ada apa dengan hukum di negeri ini?

“Kalau kalian semua berpikir bisa menyelesaikan masalah dengan cara seperti ini berarti kalian tak ada bedanya dengan binatang! Lalu untuk apa ada polisi dan hakim di negeri ini jika kalian merasa sudah bisa mengatasinya hah? Apakah orang ini berniat untuk lari? Pasti kalian memukulinya tanpa tahu ia akan melarikan diri atau bertanggung jawab kan?” ucapnya menyimpulkan. “Sekarang, adakah yang tidak setuju dengan perkataan anak ingusan ini? Jika ada silahkan lanjutkan memukuli bapak itu.” Ungkap Gisela tegas.

Gisela benar-benar khawatir mereka akan melanjutkan perbuatannya. Beberapa saat kemudian ia lega karena tak ada satu orang pun yang kembali memukuli orang itu. Satu persatu dari mereka mulai membubarkan diri tanpa mempedulikan orang yang sekarat itu. Dengan cepat Gisela menghampirinya.

“Bapak, bapak bertahan ya. Saya akan bawa bapak ke rumah sakit.”

Wajah orang itu tak jelas karena penuh luka. Ia tak menjawab dan hanya tersenyum lirih sambil menggenggam tangan Gisela. Ia memperhatikan seragam sekolah Gisela yang bersimbah darah karena menahan tubuhnya. Matanya berkaca-kaca.

“Saya tidak apa-apa pak. Luka bapak harus cepat diobati supaya tidak bertambah parah.”  Ujar Gisela lembut. Ia tak kuasa menahan tangisnya lagi. Sesaat ia memperhatikan sebuah sepeda motor berwarna putih keabuan yang jaraknya kurang lebih 7 meter dari tempat ia berdiri sekarang. Ada semacam keranjang besar di bagian belakang sebelah kiri dan kanan motor itu. Meski motor itu tergeletak di pinggir jalan dengan terjungkal,  tapi ia dapat membaca dengan jelas tulisan yang ada pada keranjang sebelah kiri itu. “Toko Bunga Whiterose” Jalan Wisma Kencana nomor 17. Menerima pesanan, HUB: 081323345678.

“Nanti motor bapak biar supir saya yang urus. Sekarang kita ke rumah sakit dulu.”

Dengan susah payah ia memapah tubuh lemah itu ke dalam mobilnya. Lalu ia meminta supirnya bergegas menuju rumah sakit yang letaknya tak jauh dari tempat itu.

***

            Gisela benar-benar cemas. Nomor yang tertera dalam keranjang itu ia hubungi, namun tidak aktif. Ia juga sudah berkali-kali mengirim sejumlah pesan tapi tak ada balasan. Sementara orangtuanya menelepon agar ia segera pulang. Ia sangat bingung.

Bapak, apa yang harus saya lakukan? Saya sungguh tak tega meninggalkan bapak sendirian di sini, tapi saya harus segera pulang pak, batinnya. Sekarang, mana yang lebih penting, keluarganya atau orang yang membutuhkan pertolongannya? Ahh, bukankah hari ini hari ulang tahun ayah? Mengapa ia sampai lupa hari sepenting ini? Bagaimana jika sesuatu terjadi pada ayahnya? Itu berarti ia tak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat ayahnya senang, apalagi di hari ulang tahunnya ini. Ya, mungkin ia harus pulang saat ini juga. Bapak, maafkan saya. Ungkapnya dalam hati. Sebelum ia pergi ia menitipkan uang dua lembar lima puluhribuan pada suster yang sedang berjaga di depan ruang UGD tempat orang itu diobati.

***

            Dalam perjalanan pulang ia teringat kembali pada orang itu. Ia mencoba mengunjungi alamat toko bunga yang ada dalam tulisan di keranjang motor milik orang itu. Tapi sayang tak ada siapapun di sana. Sepertinya toko bunga itu sudah tutup. Ia pergi dengan perasaan sedih. Lalu ia bergegas mencari toko bunga lain untuk membeli rangkaian mawar putih yang cantik. Mawar putih, terlihat suci dan bersih, melambangkan ketulusan dan kebaikan. Ya, hadiah yang indah untuk ayah yang dicintainya. Semoga ayah senang dan tersenyum menerimanya.

***

            “Apakah kamu Gisela Rosvena?” seorang lelaki asing yang sebaya dengannya tiba-tiba menegurnya dari belakang.

Gisela berbalik. Ia mengerutkan dahi dan berkata “Iya, kamu siapa?”

“Apakah kamu mengingat sesuatu di tempat ini? Mungkin sesuatu yang tak kan pernah kamu lupakan seumur hidup kamu. Saat kamu berusaha menolong seorang yang terkapar tak berdaya….” Ungkapnya sambil tersenyum.

Lelaki ini berkata seolah-olah ia terlibat mengenai kejadian naas itu. Siapa lelaki ini? Mungkinkah dia tahu sesuatu?

“Kamu siapa? Apa kamu tahu sesuatu mengenai bapak itu? Tolong beri tahu saya di mana dia sekarang…”

“Ayah sudah tidak ada di dunia…” jawabnya lirih.

Seluruh tubuh Gisela terasa lemas. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Orang itu, orang yang selama ini sangat ingin ia temui telah pergi untuk selamanya. Bapak, bagaimana bisa meninggalkan saya tanpa mengatakan sesuatu sedikitpun? Batinnya.

“Maaf, saat itu ponsel saya tak aktif. Baterainya habis. Saat saya tiba di rumah sakit tidak ada siapa-siapa. Hanya ada suster yang memberitahu saya bahwa ayah ada di ruang UGD. Dan dia juga menitipkan uang serta alamatmu pada saya. Setelah ayah pergi kami tidak membuka toko bunga lagi dan menjual sisa bunga yang ada di toko dengan harga miring. Tapi di saat terakhirnya beliau meminta agar kami menyisakan sebuah rangkaian mawar putih untuk tidak dijual.” Jelasnya.

Tiba-tiba ia menyerahkan rangkaian mawar putih yang dimaksudnya yang sudah layu sebagian. Beberapa kelopaknya berjatuhan ke jalan. Di dalamnya ada sepucuk surat.

“Ini titipan dari ayah, sehari sebelum beliau pergi….”

Gisela meraih rangkaian mawar putih itu dan membaca isi suratnya:

Mawar putih lambang kesucian dan ketulusan….

Teruntuk  Gisela Rosvena yang hatinya lebih tulus dan suci daripada mawar putih ini….

Tertanda, Bapak yang kau tolong….

Seketika itu juga tangis Gisela pecah.

***

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: